MENU

Batik Kudus

Tradisi membatik bukanlah sebuah kerajinan yang baru di nusantara. Sejak abad ke-7, batik telah dibuat dan dipakai di lingkungan istana. Batik berkembang di penjuru Pulau Jawa, sehingga setiap daerah memiliki batik khasnya masing-masing. Batik pedalaman yang dapat ditemukan di Solo dan Yogyakarta memiliki warna-warna yang lebih gelap dengan hiasan emas seperti cokelat, hitam dan putih, sementara batik pesisir dapat dilihat dari warna-warnanya yang cerah, berkembang di daerah Garut, Cirebon, Pekalongan, Kudus dan banyak lagi.

Batik Kudus mulai dikenal di abad ke-16 dan berkembang di sebuah kampung di Kudus Bernama Kampung Langgar Dalem. Dalam perjalanannya, Batik Kudus menerima banyak pengaruh dari budaya asing, seperti Arab, Tionghoa dan Belanda. Banyak pendatang yang akhirnya tertarik untuk mempelajari kesenian membatik dan hal ini memperkaya karakter Batik Kudus. Di tahun 40an, Batik Kudus seringkali mengadaptasi motif tembakau dan cengkeh karena banyaknya permintaan pembuatan batik dari pengusaha rokok pada zaman itu.

Batik Kudus merupakan jenis batik pesisir yang unik, dikarenakan perpaduan warnanya yang mengambil warna dari batik pedalaman dan pesisir. Warna khas Batik Kudus adalah soga tembelekan (cokelat kehijauan) yang mirip dengan warna batik pedalaman. Motif yang biasa dipakai di Batik Kudus beragam, mulai dari motif kaligrafi yang datang dari pengaruh budaya Arab, motif khas batik pesisir seperti bunga Padma, krisan, katleya, dan banyak lagi. Batik Kudus juga sangat memperhatikan detil dan isen-isen, seperti isen-isen beras tumpah yang menjadi salah satu ciri khasnya.

Kerumitan motif Batik Kudus yang halus dan detil membuat proses pembuatannya memakan waktu lama. Hal ini membuat para pembatik banyak beralih ke pekerjaan lainnya. Tak hanya itu, para pembatik harus bersaing dengan kain print motif batik yang relatif lebih murah. Seiring dengan kembali populernya batik sekarang ini, Batik Kudus juga mencoba untuk kembali masuk ke dalam peta mode Indonesia dan dengan bantuan berbagai pihak, Batik Kudus pelan-pelan kembali hidup.

Bakti Budaya Djarum Foundation turut mendukung kembali aktifnya industri Batik Kudus dengan menggalakan pembinaan pembatik yang dimulai pada tahun 2011. Usaha pembinaan pembatik telah berhasil menumbuhkan bibit-bibit baru dalam industri Batik Kudus. Untuk mengembalikan Batik Kudus ke dalam dunia mode Indonesia, Bakti Budaya Djarum Foundation bekerjasama dengan desainer Denny Wirawan untuk mengangkat Batik Kudus dalam koleksi ready-to-wear di bawah lini Balijava.

Peragaan busana koleksi Balijava Batik Kudus oleh Denny Wirawan yang bertajuk Pasar Malam diselenggarakan di tahun 2015, diikuti dengan partisipasi di Fashion Gallery New York Fashion Week tahun 2016 yang mendapat sambutan baik di tengah industri mode Indonesia. Tahun 2017, Denny Wirawan kembali dengan koleksi bertajuk Wedari. Dengan berlanjutnya kolaborasi ini, Batik Kudus diharapkan dapat menjadi lebih akrab dikenal sebagai salah satu kekayaan batik di Indonesia.

Galeri Amba Budaya Batik Kudus :
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 133
Kudus
Mobile : 0822 4358 0310

Muria Batik Kudus :
Jl. Karang Malang RT 04 RW 02 No.353
Gebog, Kudus
Jawa Tengah
Mobile : 0813 2560 8284

Alfa Shoofa Batik Kudus :
Jl. Raya Barat Gribig 178
(Jl. Sudimoro) Kudus
Phone : 0291 434 655
Mobile : 0813 2588 1822
www.alfashoofa.com